Opini

Jalan sebagai Urat Nadi Ekonomi: Strategi Membangun Konektivitas Konawe Kepulauan yang Inklusif dan Berkelanjutan

×

Jalan sebagai Urat Nadi Ekonomi: Strategi Membangun Konektivitas Konawe Kepulauan yang Inklusif dan Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini

Oleh: La Ode Muhammad Ichwan Sjachrawy

Pengawas Jaringan Utilitas Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Konawe Kepulauan

Naskah ini disusun sebagai bentuk partisipasi dalam Lomba Forkestra 2026, dengan mengangkat gagasan pembangunan konektivitas infrastruktur jalan sebagai penggerak ekonomi daerah yang inklusif, mandiri, dan berdaya saing.

Pembangunan daerah tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar anggaran yang tersedia, tetapi juga oleh seberapa tepat pembangunan tersebut diarahkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Dalam konteks Kabupaten Konawe Kepulauan sebagai wilayah kepulauan, konektivitas menjadi salah satu kunci penting untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, mandiri, dan berdaya saing.

Jalan tidak semestinya dipandang hanya sebagai infrastruktur fisik. Jalan merupakan urat nadi yang menghubungkan masyarakat dengan pusat ekonomi, sentra produksi, pasar, pelabuhan, fasilitas kesehatan, pendidikan, hingga berbagai peluang usaha. Ketika konektivitas berjalan baik, mobilitas masyarakat menjadi lebih mudah dan biaya distribusi dapat ditekan.

Data Kabupaten Konawe Kepulauan Dalam Angka 2026 menunjukkan panjang jaringan jalan pada 2025 mencapai 329,93 kilometer. Dari jumlah tersebut, 110,77 kilometer berada dalam kondisi baik, 48,83 kilometer kondisi sedang, 162,577 kilometer rusak, dan 7,75 kilometer rusak berat. Dengan demikian, sekitar 51,63 persen jaringan jalan masih berada dalam kondisi rusak dan rusak berat.

Data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kemantapan jalan masih menjadi pekerjaan penting. Namun, tantangannya bukan sekadar bagaimana memperbaiki sebanyak mungkin ruas jalan. Pertanyaan yang lebih strategis adalah: ruas mana yang harus diprioritaskan agar memberikan manfaat ekonomi dan sosial terbesar bagi masyarakat?

Di sinilah diperlukan perubahan paradigma. Pembangunan jalan perlu bergeser dari pendekatan berbasis ruas dan output fisik menuju pendekatan berbasis jaringan, manfaat, dan konektivitas ekonomi. Prioritas tidak hanya ditentukan oleh tingkat kerusakan, tetapi juga mempertimbangkan jumlah masyarakat yang dilayani, potensi ekonomi, akses pelayanan dasar, serta keterhubungan dengan pasar dan pelabuhan.

Konawe Kepulauan memiliki potensi ekonomi pada sektor pertanian, perkebunan, perikanan, perdagangan, dan pariwisata. Potensi tersebut membutuhkan jaringan transportasi yang mampu menghubungkan lokasi produksi dengan pusat perdagangan dan pasar. Jalan yang baik akan membantu mempercepat distribusi hasil produksi sekaligus mengurangi biaya transportasi yang pada akhirnya meningkatkan daya saing produk lokal.

Karena itu, pembangunan jalan perlu diarahkan untuk membentuk koridor ekonomi. Koridor tersebut menghubungkan sentra produksi, permukiman, pusat pelayanan, kawasan perdagangan, serta pelabuhan atau dermaga. Dengan pola ini, pembangunan jalan tidak lagi berdiri sendiri sebagai proyek konstruksi, tetapi menjadi bagian dari sistem ekonomi daerah yang menghubungkan produksi hingga pasar.

Gagasan tersebut menjadi penting dalam mewujudkan tema besar Forkestra 2026, yaitu membangun ekosistem ekonomi Sulawesi Tenggara yang inklusif, mandiri, dan berdaya saing global. Konektivitas yang baik dapat membuka kesempatan ekonomi bagi masyarakat, terutama di wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan akses. Infrastruktur menjadi instrumen untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya terkonsentrasi pada pusat-pusat tertentu, tetapi dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Selain pembangunan dan rehabilitasi, pemeliharaan jalan harus ditempatkan sebagai investasi. Jalan yang sudah baik harus dipertahankan agar tidak cepat rusak. Pemerintah daerah perlu memiliki basis data kondisi jalan yang diperbarui secara berkala sehingga penanganan dapat dilakukan secara preventif. Pemeliharaan sejak dini akan lebih efisien dibandingkan menunggu kerusakan berkembang menjadi kerusakan berat yang membutuhkan biaya lebih besar.

Konektivitas darat juga harus terintegrasi dengan karakter kepulauan. Jalan tidak dapat dipisahkan dari transportasi laut. Diperlukan rantai konektivitas produksi–jalan–pelabuhan–pasar, sehingga perpindahan barang dan manusia dapat berlangsung lebih efisien.

Pada saat yang sama, pembangunan jalan harus memperhatikan tata ruang dan ketahanan terhadap risiko iklim. Curah hujan, erosi, longsor, genangan, dan kondisi topografi dapat memengaruhi umur layanan jalan. Karena itu, pembangunan drainase, gorong-gorong, stabilitas lereng, perlindungan badan jalan, dan pemilihan material yang tepat perlu menjadi bagian dari perencanaan sejak awal.

Keterbatasan fiskal daerah juga menuntut adanya skala prioritas yang jelas. Jalan yang sudah baik harus dipelihara. Ruas rusak yang memiliki fungsi strategis perlu direhabilitasi. Jalan kerikil yang menghubungkan kawasan produktif dan melayani banyak masyarakat perlu ditingkatkan secara bertahap. Sementara pembangunan akses baru dilakukan secara selektif pada kawasan yang memiliki potensi ekonomi dan sosial tinggi serta belum terlayani.

Pendekatan tersebut sekaligus menawarkan ukuran baru dalam menilai keberhasilan pembangunan. Keberhasilan tidak cukup diukur dari berapa kilometer jalan yang dibangun atau berapa besar anggaran yang terserap. Ukuran yang lebih penting adalah manfaat yang dihasilkan: apakah waktu tempuh semakin singkat, biaya angkutan menurun, distribusi komoditas semakin lancar, akses terhadap pendidikan dan kesehatan meningkat, serta aktivitas ekonomi masyarakat berkembang.

Inilah gagasan yang perlu terus didorong dalam pembangunan Konawe Kepulauan. Jalan harus menjadi investasi yang memberikan dampak jangka panjang, bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan konstruksi dalam satu tahun anggaran. Dengan perencanaan berbasis data, prioritas berbasis manfaat, pemeliharaan yang konsisten, integrasi dengan transportasi laut dan tata ruang, serta dukungan pembiayaan lintas pemerintahan, keterbatasan dapat diubah menjadi peluang untuk membangun lebih cerdas.

Pada akhirnya, membangun jalan bukan sekadar membangun badan jalan. Membangun jalan berarti membangun konektivitas; membangun konektivitas berarti membuka peluang ekonomi; dan membuka peluang ekonomi berarti membuka jalan menuju kesejahteraan masyarakat Konawe Kepulauan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *