Opini

Terlalu Fokus pada MBG, Lupa pada Guru: Siapa yang Sebenarnya Mendidik Bangsa?

×

Terlalu Fokus pada MBG, Lupa pada Guru: Siapa yang Sebenarnya Mendidik Bangsa?

Sebarkan artikel ini

Penulis: Muh Ali Rusdin
(Ketua Umum HMPS Pendidikan dan Kepelatihan Olahraga Unsultra)

OPINI – Belakangan ini, perhatian pemerintah dan masyarakat banyak tertuju pada program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini dianggap sebagai langkah besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini. Dengan memberikan makanan bergizi kepada siswa, diharapkan masalah seperti kekurangan gizi dan stunting dapat diatasi. Secara umum, kebijakan ini memang memiliki tujuan yang baik dan patut diapresiasi.

Namun, di tengah perhatian besar terhadap program ini, muncul satu pertanyaan penting yang sering kali luput dari pembahasan: apakah kita terlalu fokus pada pemenuhan kebutuhan fisik siswa, hingga melupakan peran utama dalam pendidikan, yaitu guru?

Pendidikan sejatinya bukan hanya soal makan dan kesehatan tubuh. Pendidikan adalah proses yang jauh lebih luas, mencakup pembentukan pola pikir, pengembangan kemampuan intelektual, serta pembentukan karakter dan nilai-nilai moral. Dalam proses tersebut, guru memiliki peran yang sangat penting dan tidak tergantikan.

Guru bukan sekedar orang yang menyampaikan materi pelajaran di dalam kelas. Namun, mereka adalah pembimbing yang membantu siswa memahami dunia, membangun cara berpikir kritis, serta menanamkan nilai-nilai kehidupan. Bahkan dalam banyak kasus, guru juga menjadi sosok yang memberi motivasi dan inspirasi bagi siswa untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Sayangnya, kondisi guru di Indonesia hingga saat ini masih jauh dari ideal. Banyak guru, terutama di daerah terpencil, yang masih harus berjuang dengan berbagai keterbatasan. Gaji yang tidak mencukupi, fasilitas pendidikan yang kurang memadai, serta beban kerja administratif yang tinggi menjadi tantangan sehari-hari yang mereka hadapi.

Tidak sedikit guru honorer yang harus bekerja dengan penghasilan yang jauh dari kata layak. Di satu sisi, mereka dituntut untuk memberikan pendidikan yang berkualitas, tetapi di sisi lain, kesejahteraan mereka sendiri belum terpenuhi dengan baik. Kondisi ini tentu memengaruhi semangat kerja dan kualitas pengajaran yang mereka berikan.

Di sinilah letak ironi yang perlu kita renungkan bersama. Ketika negara berusaha meningkatkan kualitas generasi melalui program pemenuhan gizi seperti MBG, perhatian terhadap kesejahteraan guru justru belum menunjukkan perbaikan yang signifikan. Seolah-olah, yang dipentingkan adalah kondisi fisik siswa, sementara proses pendidikan yang dijalankan oleh guru tidak mendapatkan perhatian yang sama.

Padahal, jika kita melihat lebih dalam, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik siswa, tetapi juga oleh kualitas proses belajar mengajar. Dan kualitas proses tersebut sangat bergantung pada guru.

Lebih jauh lagi, wacana yang berkembang terkait penghapusan atau pengurangan studi keguruan yang katanya tidak lagi relevan, semakin memperkuat kekhawatiran akan degradasi peran guru dalam sistem pendidikan. Jika benar studi keguruan dianggap tidak lagi relevan, maka hal ini menjadi pertanda bahwa profesi guru mulai dipandang sebelah mata.

Studi keguruan memiliki peran penting dalam mempersiapkan calon guru agar memiliki kompetensi yang memadai. Di dalamnya, calon guru tidak hanya belajar tentang materi pelajaran, tetapi juga tentang metode mengajar, psikologi pendidikan, serta cara menghadapi berbagai karakter siswa. Semua ini merupakan bekal penting yang tidak bisa dianggap sepele.

Jika studi keguruan diabaikan, maka kita berisiko menghasilkan tenaga pengajar yang kurang siap. Guru yang tidak dipersiapkan dengan baik akan kesulitan dalam menyampaikan materi, mengelola kelas, serta membimbing siswa secara efektif. Akibatnya, kualitas pembelajaran akan menurun, dan pada akhirnya siswa yang akan dirugikan.

Program MBG memang dapat membantu meningkatkan kesehatan siswa. Anak-anak yang mendapatkan asupan gizi yang cukup tentu akan lebih siap untuk belajar. Mereka memiliki energi yang cukup, konsentrasi yang lebih baik, serta kondisi fisik yang lebih sehat.

Namun, kesehatan fisik saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan pendidikan. Tanpa guru yang berkualitas, proses belajar tidak akan berjalan dengan optimal. Siswa mungkin hadir di kelas dengan kondisi yang sehat, tetapi jika proses pembelajaran tidak menarik atau tidak efektif, maka hasil yang diperoleh tetap tidak maksimal.

Pendidikan adalah sebuah sistem yang saling berkaitan. Setiap bagian memiliki peran masing-masing dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Program MBG adalah salah satu bagian penting dalam sistem tersebut, tetapi bukan satu-satunya.

Jika satu aspek diperhatikan secara berlebihan, sementara aspek lainnya diabaikan, maka hasilnya akan menjadi tidak seimbang. Dalam konteks ini, terlalu fokus pada MBG tanpa memperhatikan kesejahteraan dan kualitas guru justru dapat menciptakan ketimpangan dalam sistem pendidikan.

Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih seimbang dalam menyusun kebijakan pendidikan. Pemerintah tidak seharusnya hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan fisik siswa, tetapi juga perlu memberikan perhatian yang serius terhadap guru sebagai pelaku utama dalam pendidikan.

Peningkatan kesejahteraan guru harus menjadi prioritas yang nyata. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti meningkatkan gaji, memberikan tunjangan yang layak, serta memastikan distribusi guru yang merata di seluruh wilayah. Selain itu, fasilitas pendidikan juga perlu diperbaiki agar guru dapat bekerja dengan lebih optimal.

Tidak kalah penting, beban administratif yang selama ini membebani guru juga perlu dikurangi. Banyak guru yang harus menghabiskan waktu untuk mengurus dokumen dan laporan, sehingga waktu mereka untuk mempersiapkan materi dan mengajar menjadi berkurang. Jika hal ini terus dibiarkan, maka kualitas pembelajaran akan semakin menurun.

Di sisi lain, pendidikan keguruan harus tetap dipertahankan dan bahkan diperkuat. Negara perlu memastikan bahwa calon guru mendapatkan pendidikan yang berkualitas, sehingga mereka siap menghadapi tantangan di dunia pendidikan. Investasi dalam pendidikan guru adalah investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas generasi di masa depan.

Pada akhirnya, kita perlu kembali pada pertanyaan sederhana tetapi sangat penting: siapa yang sebenarnya mendidik bangsa ini?

Jawabannya jelas, bukan makanan, bukan program, tetapi guru.
Makanan bergizi memang membantu anak-anak untuk tumbuh sehat dan siap belajar. Program seperti MBG memiliki peran penting dalam mendukung hal tersebut. Namun, yang benar-benar mengajarkan, membimbing, dan membentuk karakter siswa adalah guru.

Tanpa guru yang kompeten dan sejahtera, pendidikan tidak akan berjalan dengan baik. Program sebaik apa pun tidak akan memberikan hasil maksimal jika tidak didukung oleh tenaga pendidik yang berkualitas.

Program MBG perlu terus dijalankan dan ditingkatkan, tetapi pada saat yang sama, perhatian terhadap guru juga harus ditingkatkan. Keduanya harus berjalan seiring, bukan saling menggantikan.

Jika kita benar-benar ingin menciptakan generasi yang unggul, maka kita tidak hanya perlu memastikan bahwa mereka sehat secara fisik, tetapi juga memastikan bahwa mereka mendapatkan pendidikan yang berkualitas dari guru yang profesional dan sejahtera.

Karena pada akhirnya, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimakan oleh siswa hari ini, tetapi juga oleh siapa yang mengajar dan membimbing mereka setiap hari.

Jadi, jangan sampai kita terlalu fokus pada satu program, lalu melupakan hal yang justru paling mendasar dalam pendidikan, yaitu guru.
Guru tetaplah kunci utama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *