Opini

Bandara Maranggo, Gerbang Baru Pertumbuhan Pariwisata Tomia

×

Bandara Maranggo, Gerbang Baru Pertumbuhan Pariwisata Tomia

Sebarkan artikel ini

Oleh: Muhammad Ali, SE., ME

(Pengamat Pariwisata dan Penulis Opini Kepariwisataan Wakatobi dan Indonesia)

OPINI – Kehadiran penerbangan langsung TransNusa rute Bali–Wakatobi mulai 16 Juli 2026 merupakan kabar menggembirakan bagi masa depan pariwisata Wakatobi. Akses yang semakin mudah dari Bali, sebagai pintu gerbang utama wisatawan mancanegara, membuka peluang besar untuk meningkatkan kunjungan wisata sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Namun, keberhasilan penerbangan ini tidak cukup hanya diukur dari bertambahnya jumlah penumpang yang tiba di Wangi-Wangi. Yang lebih penting adalah bagaimana manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh seluruh pulau di Wakatobi, termasuk Tomia.

Dalam konteks inilah, Bandara Maranggo memiliki posisi yang sangat strategis. Bandara ini seharusnya dipersiapkan menjadi titik singgah (stopover) bagi wisatawan yang datang dari Bali sebelum melanjutkan perjalanan menikmati keindahan Tomia dan pulau-pulau sekitarnya.

Tomia bukanlah destinasi biasa. Pulau ini memiliki kekayaan bawah laut kelas dunia, budaya maritim yang masih terjaga, panorama pantai yang memukau, serta keramahan masyarakat yang menjadi daya tarik tersendiri. Ditambah dengan keberadaan berbagai resor dan homestay, Tomia memiliki modal kuat untuk menjadi destinasi unggulan dalam paket wisata Wakatobi.

Apabila konektivitas menuju Bandara Maranggo semakin diperkuat, wisatawan tidak perlu lagi memusatkan seluruh aktivitasnya di Wangi-Wangi. Mereka dapat langsung menuju Tomia atau menjadikan Tomia sebagai bagian dari perjalanan wisata mereka. Pola perjalanan seperti ini akan memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay), meningkatkan belanja wisata, serta menciptakan pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Bandara Maranggo tidak boleh dipandang hanya sebagai fasilitas transportasi. Lebih dari itu, bandara ini harus diposisikan sebagai pintu masuk pertumbuhan ekonomi baru di kawasan selatan Wakatobi. Dengan dukungan penerbangan lanjutan, promosi terpadu, dan sinergi pemerintah, maskapai, serta pelaku usaha wisata, Bandara Maranggo dapat menjadi simpul penting dalam jaringan pariwisata nasional.

Momentum hadirnya rute Bali–Wakatobi juga harus dimanfaatkan untuk membangun kolaborasi yang lebih kuat. Pemerintah daerah, pelaku usaha, pengelola homestay, pemandu wisata, UMKM, hingga masyarakat perlu mempersiapkan diri menyambut peningkatan kunjungan wisatawan. Pelayanan yang ramah, kebersihan lingkungan, kualitas produk wisata, serta kemudahan transportasi antarpulau harus menjadi perhatian bersama.

Ke depan, bukan tidak mungkin wisatawan memilih rute Bali–Wakatobi dengan pilihan perjalanan yang lebih fleksibel, termasuk singgah di Bandara Maranggo Tomia sebelum mengeksplorasi destinasi lain di Wakatobi. Inilah konsep pemerataan pariwisata yang sesungguhnya: tidak terpusat pada satu wilayah, tetapi menghadirkan manfaat bagi seluruh pulau.

Penerbangan langsung dari Bali adalah awal dari sebuah peluang besar. Kini saatnya Wakatobi memastikan bahwa peluang tersebut tidak hanya berhenti di landasan pacu Bandara Matahora, tetapi juga menjangkau Bandara Maranggo sebagai gerbang baru yang memperkuat posisi Tomia di peta pariwisata dunia.

Dengan strategi yang tepat, Bandara Maranggo bukan sekadar tempat pesawat mendarat, melainkan pintu menuju masa depan pariwisata Tomia yang lebih maju, inklusif, dan berdaya saing global.

Tentang Penulis:

Muhammad Ali, SE, ME adalah Pengamat Pariwisata dan Penulis Opini Kepariwisataan Wakatobi dan Indonesia. Dia secara aktif mengkaji pengembangan destinasi wisata, investasi pariwisata, dan pemberdayaan masyarakat melalui inisiatif pariwisata berkelanjutan. WhatsApp: +62 853 2981 5555 Email: aliberbagi2021@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *